Istirahatlah kata-kata. Hanya Satu Kata: Lagi!

Wiji Thukul selalu ada karena dia selalu dihilangkan.

Maka Istirahatlah Kata-kata adalah film gelap yang menerangkan. Yang mengonfirmasi betapa kekuasaan bisa sangat kurang-ajar. Yang dihilangkan dengan paksa, demi melanggengkan kekuasan yang majal dan banal, tak pernah benar-benar pergi. Karena itulah mustahil membuktikan Wiji Thukul mustahil. Thukul dihilangkan, pekiknya ditemukan.

Istirahatlah Kata-kata adalah film gelap yang menerangkan

Wiji Thukul adalah kita, pertempuran kita sehari-hari. Dengan demikianlah dia aktual.

Tapi bagi saya Istirahatlah Kata-kata tiwikrama menjadi eulogi. Perlawanan, melalui satu pekik dengan tonikum cadas: Lawan! harus menemukan tempat untuk rihat. Thukul harus tak terus-menerus melawan, dia harus menghela napas kemudian istirahat sejenak, supaya Indonesia yang diangankannya benar mewujud. Malanglah sebuah negeri yang masyarakatnya terus melawan.

Maka mengistirahatkan kata-kata, sejatinya, adalahnya cara paling sangkil dan mangkus untuk menyatakan semua ini tidak pertama-tama tentang Wiji Thukul. Melainkan tentang kita, perlawanan kita, dengan negara di singgasana.

Dua bulan sebelum rilis, saya skeptis atas Istirahatlah Kata-kata. Saya mengenal Wiji Thukul, mungkin lebih banyak dari Sipon, dari literatur. Apa yang mau disampaikan Istirahatlah kata-kata, di tengah film biopik yang di paruhnya tergelincir menjadi drama?

Tapi skeptisisme tadi harus dipanggil pulang. Istirahatlah Kata-kata didekati dengan cara yang paling up to date: bahwa semangat perlawanan Wiji Thukul adalah perlawanan keseharian kita, di tengah kerepotan kita menjaga hati nurani. Istiharatlah Kata-kata adalah wajah kita, yang sering kesulitan meminta bahkan hak sekalipun. Karena itulah, bagi saya, sekali lagi, Istirahatlah Kata-kata akan selalu aktual, dan karena itulah ia menarik.

Butuh suplemen keberanian yang banyak untuk merilis Istirahatlah Kata-kata, saya kira. Tanpa Reza Rahadian, atau Chelsea Islan, dan buzzer yang selalu mengaku tak dibayar dan itu tak profesional, Istirahatlah Kata-kata seperti hendak melawan hegemoni pasar. Bahwa pada akhirnya ia menang, sekarang kita mafhum film bagus tak pernah mengkhianati.

Kepada sutradara Istirahatlah Kata-kata, kepadamu saya menaruh hormat.

Memang, Istirahatlah Kata-kata tak tertib literer, tapi semua itu bisa diterima sebab ini bukan film dokumenter. Pun beberapa detil di peristiswa 27 Juli, Istirahatlah Kata-kata meninggalkan lubang yang harus kita isi sendiri. Tapi hanya dengan begitulah kita bisa napaktilas wajah negeri ini, bahwa ia pernah moyak oleh segelintir orang yang merasa benar tapi tak benar merasa. Noktah hitam di jantung Pertiwi.

Satu hal lain yang pantas dicatat adalah akting Gunawan Maryanto. Saya sampai perlu meyakinkan diri sendiri bahwa ia benar orang Indonesia. Ia Wiji Thukul versi yang tak dihilangkan. Piala Citra kategori aktor terbaik haruslah untuknya. Dan satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa saya tak berlebihan, adalah bahwa Anda harus menyaksikannya sendiri.

Pertanyaannya kini, apa setelah Istirahatlah Kata-kata? Tan? Syahrir? Atau apa? Maka hanya ada satu pekik: lagi!

 

768 Total Views 20 Views Today
Wilson Sitorus Written by:

Manusia Gembira. Penggagas TV Parpol. Dikenal sebagai Tuan Wahai

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *