Surat Parsirangan untuk KPI

Televisi bukan babysitter
-Tuan Wahai

Bila ada yang percaya bahwa blur (menutup sebagian anggota tubuh) yang kiwari kerap dilakukan televisi adalah ikthiar untuk membangun bangsa, maka dia haruslah juga percaya bahwa saya keren.

Kekeliruan utama akun Ulil adalah mencangkokkan domain moral ke aktivitas blur. Padahal ke duanya berangkat dari term yang tidak sama. Moral tidak ada di televisi, karena mula-mula tidak untuk itu dia dibangun. Malanglah sebuah negeri yang memercayakan moralitas bangsanya kepada televisi, yang notabene entitas bisnis belaka.

Blur pertama-tama ditujukan untuk melindungi pemirsa anak-anak. Belakangan, aktivitas ini menjadi marsamburetan (maknanya silakan tanya ke akun Kisbet). Padahal masalah utama melindungi pemirsa anak-anak justru bukan di situ. Yang ganteng Dude Herlino, yang disangka saya. Kira-kira begitu.

Blur adalah skema buruk yang selaras dengan takhyul bahwa anak yang baik adalah anak yang duduk-manis tak banyak bertanya. Istri yang baik adalah istri yang indikatornya ditentukan oleh rapor sekolah anak. Semua itu digagas oleh kemalasan berpikir. Melarang itu nikmat, membuat kita yakin sedang berkuasa.

Perlindungan kepada pemirsa anak-anak seharusnya dilakukan melalui literasi, bukan blur. Literasi adalah gerbong yang membawa kita ke peron berikutnya, bahwa semua tayangan televisi adalah baik adanya ditonton pemirsa anak-anak selama dia didampingi orangtuanya.

Karena itulah televisi bukan babysitter, tempat di mana kita bisa mendudukkan anak-anak di depannya, hanya supaya kita bisa asik ngobrol dengan tetangga. Atau supaya tak terganggu kerewelannya menyimak selebtwit mana tidur dengan siapa lalu teriak-teriak. Pas ena-ena kita gak diajak. Kan asu.

Literasi atas konten televisi adalah masalah serius. Lalu Komisi Penyiaran Indonesia menjawabnya dengan blur. Padahal blur adalah tindakan nekad yang insinutaif, yang justru menyuburkan keingin-tahuan pemirsa. Semula saya tak bersemangat mencari-tahu ukuran buah dada perenang di PON, tapi karena di-blur saya menjadi ingin tahu. Ukurannya mungkin 32 B, cukuplah ya.

Setidaknya ada dua masalah serius atas inisitaif blur. Pertama, KPI bersama-sama dengan para amir televisi telah menghalang-halangi kenyamanan pemirsa. Mereka sudah beritikad memilihkan tayangan mana yang sesuai untuk kita, mana yang sebaliknya. Seolah-olah KPI yang melahirkan, mendidik, memberi makan, dan membelikan kita gadget. Upaya penyeragaman harus dicurigai sebagai fasis. Fasis R.M.

Ke dua, gebyah-uyah blur adalah intervensi brutal atas kemanusiaan. Seorang pesenam asal Papua, yang mimpi satu-satunya adalah memenangkan medali PON dan ditayangkan di televisi, telah dibunuh impiannya oleh blur. Dia telah dihalang-halangi untuk memamerkan lentur tubuhnya di cabang olahraga senam.

Bahkan bila patung bisa ngomong, saya yakin mereka pun akan serempak membuat angket menolak ditutup karena seni bukanlah apa-apa yang didefinisikan oleh KPI.

Begitulah, yang dibutuhkan adalah literasi, bukan blur. Pada literasi kita bisa meyakinkan orangtua bahwa aktivitas menonton televisi bersama-sama adalah kegiatan paripurna di tengah kelelahan kita diciderai hati nurani.

Karena blur kian marak, maka ini adalah surat parsirangan untuk KPI. Kalian memang harus bertanya ke Borip apa artinya. Atau tanya Bang Poltak.

Televisi bukan tujuan, dia alat. Dan saya tetap tak keren. Adakah yang lebih buruk lagi dari semua itu?

Tabik. Tabik gelap yang dulu hinggap

666 Total Views 2 Views Today
Wilson Sitorus Written by:

Manusia Gembira. Penggagas TV Parpol. Dikenal sebagai Tuan Wahai

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *