Ketahuilah Jess, Kami Takut

Kami takut karena tiga hal, Jess.

Pertama, betapa sembrononya pertanyaan-pertanyaan itu. Kenapa kau tak panik, misalnya. Atau kenapa kau meletakkan paper bag di atas meja. Kami takut Jess, sebab bertanya pun kami tak pandai.

Kedua Jess, sekarang kami paham pengadilan sepenuhnya tentang bagaimana memenjarakan orang. Bukan tentang menemukan bukti. Apakah mereka sudah bertanya ukuran behamu? Tidurmu madep kiri atau kanan?

Jess, ini yang ketiga: bila kau dihukum, lalu bebas sekian tahun kemudian, bagaimana kau menghadapi pertanyaan dari cucumu tentang videomu yang terserak di media sosial? Bagaimana kau menghadapi pertanyaan dari teman sekolah cucumu, yang melihatnya di Youtube, Facebook, Periscope, dan platform lainnya?

Bila kau membaca ini Jess, catatlah, kau punya hak meminta pengadilan menghentikan semua liputan tentang persidanganmu. Kau juga berhak meminta pengadilan memeriksa dan menghentikan seluruh kegiatan peliputan yang ditayang-lagi di sosial media. Itu hakmu.

Kecuali bila kau menikmatinya.

Jess, kami takut karena hukuman sudah ditambahkan di muka, sedangkan vonis belum. Orientasi seksualmu, emosimu, ketidak-stabilan psikologismu, gaya hidupmu. Saya memang masih menunggu kapan mereka bertanya apa klub favoritmu. Big no untuk klub itu, please Jess….

Mari sebentar kita ganti posisimu dengan @polansski, tapi jangan deh dia Liverpool, kita ganti dengan Mawar (nama lengkap ada pada redaksi, sekaligus menunjukkan kemalasan redaksi mencarikan nama lain) apakah situasinya akan tetap sama? Apakah Mawar akan diungkit juga relasi seksualnya?

Kenapa tak bisa langsung saja Jess, bahwa ada bukti kau yang memasukkan sianida ke dalam kopi Mirna (semoga dia bahagia menari bersama bidadari), lalu kau dihukum, lalu kami bisa ganti ke gibah berikutnya yang sudah menunggu harap-harap cemas. Kami sibuk Jess, dan masih banyak gibah yang antre.

Mungkin semua ini simplifikasi Jess, mengingat saya pun bukan pokrol bambu. Tapi persidanganmu ini menguras seluruh ketidak-tahuan kami bahwa di negeri ini tersangka sudah boleh dihukum meski vonis masih nanti. Persidanganmu ini sedikit lagi menjadi arena sirkus, dan kami suka-cita menggunjingkannya. Sambil makan tentu saja. Yang kenyang kami, yang luka kamu.

Saran saya, kau buka akun di twitter, Jess. Pengikutmu akan banyak. Sebagian akan mendukung, sebagian lagi mencela. Tinggal bilang kau khilaf, yang sebagian-sebagian tadi itu akan bertengkar sendiri, sampai lelah, lalu berpindah ke Pilkada. Tiap hari begitu.

Begitulah Jess, kami takut bahwa kau bukan yang terakhir. Bahwa tiap-tiap orang akan mendapatkan hukuman tambahan di luar vonis. Hukuman tambahan itu akan mengikuti sampai tua, dan menjadi vonis lagi setelah kau bebas nanti.

Mungkin kami harus segera mencarikan padanan yang pas untuk inkracht, sebab kami acap alpa kata ini. Mungkin kami juga harus mampu menahan diri bahwa tidak semua urusan orang adalah urusan kami. Sejalan dengan itu Jess, saat ini kami sedang melarang negara mengurusi wilayah privat warganya, sebab itu jatah kami.

Sambil menemanimu menerawang malam di sel yang dingin, saya kisahkan ini, ada yang sedang menjalani operasi pembesaran payudara, memvideokannya, sambil menantang teman-temannya. Saya belum tanya cita-citanya apa. Oh iya, Sully sedang main. Oleh Clint Eastwood dan Tom Hanks. Felix Siauw masih begitu, Jimbot masih dagang bapao, sisanya sama.

Apa kabarmu, Jess?

 

919 Total Views 4 Views Today
Wilson Sitorus Written by:

Manusia Gembira. Penggagas TV Parpol. Dikenal sebagai Tuan Wahai

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *