Fenomena Akik Menggila. Tukang Akik Dimana?

Terkaget ketika membaca linimasa media sosial. Salah satu trotoar di Jakarta dirusak karena ada batu yang diyakini masyarakat sebagai batu petuah. Mereka berencana menjadikan batu tersebut menjadi cincin akik.

Fenomena akik menggila. Kenapa bisa begitu? Menurut saya ini disebabkan kurangnya pengetahuan tentang mineral dan batuan, baik tukang akik-nya juga penggila batu akik-nya.

Siapa yang sebenarnya menguasai pengetahuan tentang mineral dan batuan? Geolog tentunya. Namun tidak semua geolog mendalami pengetahuan tentang mineral dan batu mulia. Misalnya, saya seorang geolog yang hanya tahu mineral dan batuan secara umum tapi mendalami batubara, dan kawan saya, Siswandi Kastari, dia geolog yang paham betul tentang mineral dan batuan, mendalami batu mulia dan mengajarkan ilmunya pada banyak mahasiswa di Universitas Jenderal Besar Soedirman, Purwokerto. Betul, Siswandi adalah dosen di universitas itu.

Akik tidak seharusnya menggila seperti sekarang ini jika kita yang terlibat dalam per-akik-an ini mempunyai pengetahuan yang cukup atau setidaknya tercerdaskan oleh kawan-kawan yang lebih paham tentang akik. Dalam hal ini, Tukang Akik punya andil besar untuk mencerdaskan penggila akik. Siapa dan dimana posisi Tukang Akik sesungguhnya? Siswandi mempaparkan sebagai berikut:

Geolog yang paham seluk-beluk akik itu ada tiga tingkatan (entah kenapa Siswandi lebih menyebutkan tingkatan bukan kelompok), yang paling bungsu itu Gemologist, diatasnya ada Mineralogist dan yang tertinggi dari itu semua adalah Tukang Akik. Tukang Akik yg sesungguhnya. Jadi jelas bahwa untuk mencapai maqom Tukang Akik itu harus berjenjang. Dia haruslah menguasai dulu beberapa ilmu dasar dan terapan.

Matematika, Fisika juga Kimia, sebagai ilmu dasar. Ilmu tersebut menjadi dasar pembelajaran Gemology. Apa itu Gemology? Ilmu yang mempelajari mineral batumulia. Dasar pembelajarannya adalah pengenalan mineral batumulia berdasar sifat-sifat fisik dan optiknya, sangat sedikit menyangkut hal kimia. Jadi nanti keahliannya adalah mengenali mineral batumulia dengan karakter fisik dan optiknya, meliputi specific gravity (SG), index of refraction (RI), spectrum absorption (SA) dan karakter visual mineral batumulia. Dalam golongan gemologist ada artistic dan aestetic juga meraka para lapidarist, ia gemologist tukang desain dan gosok batumulia. Kurang lebih demikian.

Itu tadi tentang golongan Gemologist, setingkat di atas ada Mineralogist.

Mineralogist mengenali lebih banyak mineral, bukan cuma mineral batumulia, tetapi ada juga mineral penyusun utama batuan (RFM), ada mineral logam dan mineral nonlogam, Kimia Dasar modal utama disini.

Mulai dari mineral tunggal yg bening meling sampai mineral aggregat yg kusam berjubelan, lapuk pun buluk. Semua dikenali Mineralogist, secara fisik, optik, kimia dan genetiknya.

Dan diantara mereka itu ada yang sedang duduk bersila, Tukang Akik. Tukang Akik yang sebenarnya. Tukang Akik yang sesungguhnya. Dia itu ya Gemologist, ya Mineralogist, ya Artist dan Aestetist juga, dan plus-plus-plus. Ini dikatakan plus-plus, karena ada ditambahkan ilmu dan pengetahuan khusus yang lebih dari, dan berbeda, dari Gemologist dan Mineralogist. Begitulah sesungguhnya Tukang Akik.

Tukang Akik bukan sekedar pegang senter lalu sorotkan ke akiknya. Dia haruslah juga bisa bercerita tentang perjalanan sinar melalui dua media dengan kerapatan berbeda dan kita menatanya sedemikian rupa agar sinar-sinar itu terpantul, terbias dan terpantul. Bukan bablas lewat saja. Jabarkan bahwa sinar datang, garis normal dan sinar pantul adalah sebidang. Sudut sinar datang sama dengan sudut sinar pantul. Sinar datang tegaklurus permukaan (interface) maka sinar bablas. Sinar datang lebih besar dari sudut bias maka sinar dipantulkan. Seperti Snellius menjelaskan ilmu Fisika Dasar ini.

Belum selesai di sini, Tukang Akik haruslah sampai pada berapa sudut biasnya itu tergantung indeks bias materialnya, yang itu tergantung kerapatan materialnya. Kerapatan ini tergantung ukuran atomnya dan tataletak atom dalam kisinya. Tataletak atomnya ini ditentukan oleh berapa ukuran jejari atom unsur penyusunnya, jenis dan besar muatan atomnya.

Jadi jangan dikira akik-akik-akik itu sederhana. Fisikanya bagaimana. Kimianya bagaimana. Matematikanya bagaimana. Kalau semua itu sudah terjawab, coba sekalian jawab juga pertanyaan, “Faedahnya bagaimana?” Begitulah Tukang Akik yang seharusnya dan sesungguhnya.

Tukang Akik itu tidak seharusnya sembarangan. Kenapa? Karena orang-orang berbatu (akik) itu seperti orang beragama. Bila mereka sudah berkeyakinan, susah diluruskan. Maka bila (ada) keyakinannya itu keliru, keliru terus mereka sepanjang pemakaian akik tersebut. Beling dianggap Rubby. Zamrud ditinggal pergi. Itulah bahayanya kalau Tukang Akik sembarangan.

Bilapun hidayah tentang akik itu datang dalam bentuk persertifikatan, haruslah belum tentu itu diterima oleh Tukang Akik sesungguhnya.

Demikian seharusnya maqom Tukang Akik, hanya saja dia sering dipandang sebagai mal praktek Geologist. Entahlah, gumam Siswandi.

 

Featured Image Source

1219 Total Views 1 Views Today

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *