WhatsApp dan Segala Keriuhannya

Perkembangan teknologi memang selalu menarik meski hanya sebuah aplikasi mengobrol lewat ponsel cerdas. Saya yang kadang di Jakarta kadang di Sleman bisa mengobrol asyik dengan beberapa kawan yang sedang dimanapun mereka berada di bumi ini. Hey… What’s up?

Sudah tidak perlu lagi dibahas detil tentang apa itu WhatsApp. Sebuah aplikasi yang digunakan untuk ngobrol lewat ponsel cerdas yang terhubung internet.

Awalnya saya kurang begitu yakin dengan pertumbuhan aplikasi ini di Indonesia karena ketika itu di Indonesia banyak pengguna ponsel sedang menikmati kehebatan BlackBerry. Pertanyaan, berapa PIN-mu? Sangat umum saat itu. Ketika orang beramai-ramai tukar menukar PIN BlackBerry, saya malah rela membeli lisensi WhatsApp di toko aplikasi ponsel dan langsung memasangnya.

Seiring makin populernya ponsel cerdas bukan BlackBerry, popularitas WhatsApp-pun naik tajam. Kelompok obrolan yang tadinya riuh di Blackberry –hingga mengakibatkan jam pasir berputar (salah satu kekhasan BlackBerry) berpindah. Untuk mengakomodasi keinginan penggunanya supaya bisa memuat lebih banyak lagi jumlah anggota di kelompok mengobrol, aplikasi ini memaksimalkan kapasitas kelompok mengobrol hingga 100 orang per kelompok obrolan. Luar biasa.

Bayangkan lalu lintas 100 orang berbicara pada waktu yang hampir bersamaan dengan pola yang berbeda-beda, serius, canda dan waton nyeletuk jadi satu. Ada yang menikmati, ada yang risih, ada yang ketawa (dalam hati tapi), ada yang (cuma) bingung bahkan ada juga yang acuh. Keriuhan pun bisa dirasakan, sangat bisa, di kelompok obrolan yang saya ikuti, untuk informasi saja tidak banyak saya tergabung di kelompok mengobrol, hingga saat ini hanya tergabung di 3 kelompok, teman sekolah, keluarga besar dan penggemar sepeda di rumah.

Pro dan kontra terhadap suatu topik obrolan selalu muncul bahkan kadang sedikit memanas. Buat yang menikmati, mereka akan nekad konyol bertahan di dalam sambil ketawa (dalam hati tapi). Buat yang risih, mereka biasanya mengungkapkan ketidaksukaan secara terbuka. Jika merasa tidak ada perubahan dari ungkapan ketidaksukaannya, mereka pergi sebagai tanda sudah tidak kuat lagi. Dan selalu saja tidak ada tanggapan dari mereka yang acuh dengan kelompok mengobrol ini. Ya pasti, kan acuh. Terserahlah. Mungkin begitu prinsip mereka. Mungkin.

Dari keriuhan kelompok obrolan tadi, saya banyak mendapatkan hal menarik. Saya jadi tahu benar bahwa tidak semua suka dengan cara berkomunikasi saya lewat teks, saya minta maaf dan akan berubah tentunya; saya jadi tahu selera humor orang tidak berada pada tingkatan yang sama, jadi mengerti sensitifitas kawan terhadap suatu isu yang sedang hangat diperbincangan khalayak bahkan hingga hal-hal lain (banyak yang menyebutnya dengan tidak pantas) menarik di luar kebiasaan. Seperti? Ah… Sudahlah. Tidak perlu didetilkan disini.

Pendek kata, perkembangan teknologi memang selalu menarik meski hanya sebuah aplikasi mengobrol lewat ponsel cerdas. Saya yang kadang di Jakarta kadang di Sleman bisa mengobrol asyik dengan beberapa kawan yang sedang dimanapun mereka berada di bumi ini. Hey… What’s up?

 Featured Image Source

1299 Total Views 1 Views Today

4 Comments

  1. 02/23/2015
    Reply

    Tapi kadang keriuhan Whatsaap dan kawan2nya mengganggu dan memunculkan banyak masalah dalam hubungan komunikasi jaman sekarang..istilahe mas kalo cuma di R apa centang biru tapi ga dibales..membuat si pengirim jadinya berburuk sangka atau berpikir negatif..:D ada positif negatifnya teknologi komunikasi sekarang ini..

    • 02/23/2015

      Kayak Bible/Al Quran dong. Kebanyakan dari kita juga cuma baca saja :) Dan kita sebaiknya berbaik sangka saja :) Suatu saat pasti teringat apa yg kita baca

    • 02/23/2015

      Hahahaha..itu mah beda atuh isinya..masa disamaain :D bener deh fenomena R doang bikin org ga sabaran juga..

    • 02/24/2015

      Itu berarti disuruh chit-chat dg yg lain, mbak. Jadi sabar… Cari teman chit-chat yg lain :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *