Akhir Pekan Kaum Urban

Sabtu pagi-pagi sekali, saya baru tiba di Stasiun Kereta Api Yogyakarta.

Jakarta adalah pusat ekonomi Indonesia, uang berputar-putar disana. Ini membuat kami yang hidup di daerah tertarik untuk mencari nafkah disana. Alhasil banyak sekali kaum urban yang harus bolak-balik dari tempat tinggal ke tempat kerjanya. Saya misalnya, Senin hingga Jumat ada di Jakarta, kadang juga perjalanan ke daerah lainnya, dan berakhir pekan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.


Tergantikan Oleh Gadget Seukuran Saku Kemeja

Era media sosial membuat kita akrab dengan koneksi internet yang selalu terhubung dengan gadget cerdas. Menyenangkan, karena semua itu memudahkan kita. Dari sekedar ngobrol melalui aplikasi chatting yang sederhana, mengabarkan sesuatu pada kawan menggunakan email, memantau perkembangan dunia melalui media sosial, menyimpan data di cloud, hingga menyusun agenda pribadi, semuanya terhubung dengan internet dan gadget cerdas.


Window Seat

Window seat ya, mbak?” Selalu begitu setiap saya check-in di bandar udara. Window seat hanyalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut posisi duduk mepet dengan jendela. Kenapa saya selalu memilih tempat duduk itu?

Mendengarkan musik, baca majalah dan menyantap makanan yang dihidangkan –kalau pas kebetulan disediakan, lalu setelah itu? Tentu akan sangat membosankan jika hanya menikmati suasana dalam pesawat. Statis. Beda dengan kita menikmati pemandangan di luar pesawat;


Stasiun Gambir

Sebagai kaum urban yang harus bolak-balik kampung ke ibukota, saya dibuat akrab dengan moda transportasi kereta api. Karena itulah saya sering berkunjung ke stasiun besar kereta api di Jakarta, Stasiun Gambir. Stasiun kereta api yang berada persis di tengah ibukota negara dan berdampingan dengan salah satu ikon Indonesia, Tugu Monumen Nasional (Monas).

Banyak yang menarik di Stasiun Gambir, saya mencoba menggambarkan suasana Stasiun Gambir dengan kamera ponsel (telepon seluler), hanya satu foto saja yang kebetulan saya ambil dengan kamera saku.


Kampoeng Kopi Banaran

Sudah lama sebenarnya saya dan keluarga besar menikmati Kampoeng Kopi untuk sekedar bersantai bersama, Agustus dua tahun yang lalu tepatnya.

Setelah lelah beraktivitas seharian, malamnya kita bisa makan malam sambil menikmati udara malam kebun kopi. Lengkap dengan kopi dan singkong goreng tentunya.